Bimbingan Konseling
A.Hakikat Bimbingan dan Konseling di SMP
M.
Surya (1988: 12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses
pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematis dari
pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yang optimal
dan penyesuaian diri dengan lingkungan. Sedangkan menurut Oemar Hamalik
(2000: 193) bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal
dirinya dan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkan
masalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya.
Dari
dua pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti sari bahwa bimbingan
dalam penelitian ini merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan
kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal
mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self understandng),
menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self
direction), dan merealisasikan dirinya (self realization). Konseling
adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh
seorang ahli kepada individu yang mengalami suatu masalah yang bermuara
pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, 1997: 106).
Sedangkan menurut MunginEddy Wibowo 91986: 39) konseling merupakan
upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia memperoleh
konsep diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah
lakunya pada masa yang akan datang.
Dari pengertian tersebut, dapat penulis sampaikan ciri-ciri pokok konseling, yaitu:
1. Adanya bantuan dari seorang ahli
2. Bantuan
diberikan kepada individu yang mengalami masalah agar memperoleh konsep
diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah guna memperbaiki
tingkah lakunya di masa yang akan datang.
3. Proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling
A. Perlunya Bimbingan dan Konseling di SMP
Jika
ditunjau secara mendalam, setidankanya ada tiga hal utama yang
melatarbelakangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosio
kultural dan aspek psikologis. Secara umum, latar belakang perlunya
bimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional
yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia indonesia yaitu:
meningkatkan kualitas sumber daya manusia indonesia yaitu manusia yang
beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa, berbudi pekerti
luhur, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan
terampil serta sehat jasmani dan rohani. Untuk mewujudkan tujuan
tersebut perlu mengintegrasiakan seluruh komponen yang ada dalam
pendidikan, salah satunya komponen bimbingan. Bila dicermati dari sudut
rasio kultural, yang melatar belakangi perlunya proses bimbingan adalah
adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sehingga
berdampak disetiap dimensi kehidupan.
Ada lima hal yang melatar belakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni:
1. Masalah perkembangan individu
2. Masalah perbedaan individual
3. Masalah kebutuhan individu
4. Masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku
5. Masalah belajar
B. Fungsi Bimbingan dan Konseling di SMP
Sugiyo Dkk(1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konsling, yaitu:
1. Fungsi penyaluran (distributuf)
Fungsi
penyaluran ialah fungsi bimbingan dalam membantu menyalurkan
siswa-siswa dalam memilih program-program pendidikan yang ada disekolah,
memilih jurusan sekolah, memilih jenis sekolah sambungan ataupun
lapangan kerja yang sesuai dengan bakat, minat, cita-cita dan ciri-ciri
kepribadiannya. Disamping itu sangsi ini meliputi pula bantuan untuk
memiliki kegiatan-kegiatan disekolah antara lain membantu menempatkan
anak dalam kelompok belajar dan lain-lain.
2. Fungsi penyesuaian(adjustif)
Fungsi
penyesuaian yaitu fungsi bimbingan dalam membantu siswa untuk
memperoleh penyesuaian pribadi yang sehat. Dalam berbagai tehnik
bimbingankhususnya dalam tehnik konsling, siswa dibantu menghadapi dan
memecahkan masalh-masalah dan kesulitannya. Fungsi ini juga membantu
siswa dalam usaha mengembangkan dirinya secara obtimal.
3. Fungsi Adabtasi(adaptif)
Fungsi
adaptasi ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu stap sekolah
khususnya guru dalam mengadaptasikan program pengajaran dengan ciri
khusus dan kebutuhan pribadi siswa-siswa. Dalam fungsi ini pembimbing
menyampaikan data tentang ciri-ciri, kebutuhan minat dan kemapuan serta
kesulitan-kesulitan siswa kepada guru. Dengan data ini guru berusaha
untuk merencanakan pengalaman belajar bagi para siswanya. Sehingga para
siswa memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan bakat, cita-cita,
kebutuhan dan minat (Sugiyo, 1987:14).
C. kegiatan BK Dalam Kurikulum BerbasisKompetensi
Berdasarkan
pedoman kutikulum berbasis kompetensi bidang bimbingan konseling(2004)
dinyatakan bahwa kerangka kerja layanan BK dikembangkan dalam suatu
program BK yang dijabarkan dalam empat kegiatan utama, yakni :
1. Layanan Dasar Bimbingan
Layanan
dasrbimbingan adalah bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh
siswa mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan hidup yang mengacu
pada tugas-tugas perkembangan siswa-siswa SD.
2. Layanan responsif
Layanan
responsif adalah layanan bimbingan ang bertujuan untuk membantu
memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta didik saat
ini. Layanan ini lebih bersifat preventik ayau mungkin kuratif.
Strategi yang digunakan adalah konseling individual, konseling kelompok ,
dan konsultasi. Isi layanan responsif adalah:
a. Bidang pendidikan
b. Bidang belajar
c. Bidang sosial
d. Bidang pribadi
e. Bidang karier
f. Bidang tata tertib
g. Bidang nakotika dan perjudian
h. Bidang perilaku sosial
i. Bidang kehidupan lainnya
3. Layanan perencanaan individual
Layanan
perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang membantu seluruh
peserta didik dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir
dan kehidupan sosial dan pribadinya. Tujuan utama dari layanan ini untuk
membantu siswa memantau pertumbuhan dan memahami perkembangan sendiri.
4. Dukungan sistem
Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manejemen yang bertujuan
memantapkan, memelihara dan meningkatkan program bimbingan secara
menyeluruh. Hal ini dilaksanakan melalui pengembangan profesionalitas,
hubungan masyarakat dan staf,konsultasi dengan guru, staf ahli/
penasehat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan
pengembangan (Thomas Ellis, 1990).
Kegiatan
utama layanan dasar bimbingan yang responsif dan mengandung perencanaan
individual serta memiliki dukungan sistem dalam implementasinya
didukung oleh beberapa jenis layanan BK, yakni:
a. Layanan pengumpulan data
b. Layanan informasi
c. Layanan penempatan
d. Layanan konseling
e. Layanan referal/melimpahkan ke pihak lain
f. Layana penilaian dan tindak lanjut (Nurihsan, 2005: 21)
D. Peran Guru Mata Pelajaran dalam Pelaksanaan BK
Guru berusaha membimbing siswa agar dapat menemukan barbagai potensi
yang dimilikinya, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan
tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia
dapat tumbuh dan berkembang sebagai individu yang mandiri dan produktif.
Siswa adalah individu yang unik.Artinya, tidak ada dua individu yang
sama. Walaupun secara fisik mungkin memiliki kemiripan, akan tetapi pada
hakikatnya mereka tidaklah sama, baik dalam bakat, minat, kemampuan dan
sebagainya. Di samping itu setiap individu juga adalah makhluk yang
sedang berkembang. Irama perkembangan mereka tentu tidaklah sama juga.
Perbedaan itulah yang menuntut guru harus berperan sebagai pembimbing.
Hubungan
guru dan siswa seperti halnya seorang petani dengan tanamannya. Seorang
petani tidak memaksa agar tanamannya cepat berbuah dengan menarik
batang atau daunnya. Tanaman itu akan berubah manakala ia memiliki
potensi untuk berbuah serta telah sampai waktunya berbuah. Tugas seorang
petani adalah menjaga agar tanaman itu tumbuh dengan sempurna, tidak
terkena hama penyakit yang dapat menyebabkan tanaman tidak berkembangdan
tidak tumbuh dengan sehat, yaitu dengan cara menyemai, menyiram,
memberi pupuk dan memberi obat pembasmi hama. Demikian juga halnya
dengan seorang guru. Guru tidak dapat memaksa agar siswanya jadi “itu”
atau jadi “ini”. Siswa akan tumbuh dan berkembang menjadi seseorang
sesuaidengan minat dan bakat yang dimilikinya. Tugas guru adalah
menjaga, mengarahkan dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang
sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya. Inilah makna peran sebagai
pembimbing. Jadi, inti dari peran guru sebagai pembimbing adalah
terletak pada kekuatan intensitas hubungan interpersonal antara guru
dengan siswa yang dibimbingnya.
Disekolah, tugas dan tanggung jawab utama guru adalah melaksanakan
kegiatan pembelajaran siswa. Kendati demikian, bukan berarti dia sama
sekali lepas dengan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Peran
dan konstribusiguru mata pelajaran tetap sangat diharapkan guna
kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di
sekolah. Bahkan dalam batas-batas tertentu guru pun dapat bertindak
sebagai konselor bagi siswanya. Wina Senjaya (2006) menyebutkan salah
satu peran yang dijalankan oleh guru yaitu sebagai pembimbing dan untuk
menjadi pembimbing baik guru harus memilki pemahaman tentang anak yang
sedang dibimbingnya. Sementara itu, berkenaan peran guru mata pelajaran
dalam bimbingan dan konseling,Sofyan S. Willis (2005) mengemukakan bahwa
guru-guru mata pelajaran dalm melakukan pendekatan kepada siswa harus
manusiawi-religius, bersahabat, ramah, mendorong, konkret, jujur dan
asli, memahami dan menghargai tanpa syarat. Lebih jauh, Abin Syamsuddin
(2003) menyebutkan bahwa guru sebagai pembimbing dituntut untuk mampu
mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar,
melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya,
harus membantu pemecahannnya.Berkenaan dengan upaya membantu mengatasi
kesulitan ayau maslah siswa, peran guru tentu berbeda dengan peran yang
dijalankan oleh konselor profesional.Sofyan S. Willis (2004)
mengemukakan tingkatan masalah yang termasuk kategori ringan, seperti:
membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi
dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal ,
berpacaran, mencuri kelas ringan.
Dalam konteks organisasi layanan Bimbingan dan Konseling, di sekolah,
peran dan konstribusi guru sangat diharapkan guna kepentingan
efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.
Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata
pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah:
1. Membantu
konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan
dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
2. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan khusus, seperti pengajaran/latihan perbaikan, dan program pengayaan.
4. Menerima siswa alih tangan dari konselor,
yaitu siswa yang menuntut konselor memerlukan pelayanan khusus, seperti
pengajaran/latihan perbaikan, dan program pengayaan.
5. Membantu
mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan
siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan
konseling.
6. Memberikan
kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan
bimbingan dan konseling untuk mengikuti/menjalani kegiatan yang
dimaksudkan itu.
7. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa,Seperti konferensi kasus.
8. Membantu
pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan
bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.Implementasi
kegiatan bimbingan dan konseling dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis
kompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar.Oleh
karena itu peranan guru mata pelajaran dalam pelaksanaan kegiatan
bimbingan konseling sangat penting dalam rangka mengefektifkan
pencapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
Peranan guru dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling dapat dibedakan menjadi 2(dua) yaitu:
1.Tugas guru dalam layanan bimbingan dalam kelas
Kejelasan gambaran tugas dapat memotivasi guru untuk berperan secara
aktif dalam kegiatan bimbingan dan mereka ikut bertanggung jawab atas
terlaksananya kegiatan itu.Perilaku guru dapat mempengaruhi keberhasilan
belajar, misalnya guru yang bersifat otoriter akan menimbulkan suasana
tegang, hubungan guru siswa menjadi kaku, keterbukaan siswa untuk
mengemukakan kesulitan-kesulitan sehubungan dengan pelajaran itu
menjadi terbatas. Oleh karena itu, guru harus dapat menerapkan fungsi
bimbingan dalam kegiatan belajar-mengajar. Seorang guru dapat menerapkan
bimbingan didalam kelas dengan hal-hal berikut:
a.Guru sebagai pembangkit motivasi belajar
Pembangkit motivasi belajar oleh guru kelas dapat dilakukan secara
khusus menggunakan jam pelajaran atau diselipkan sambil mangajar atau
memberikan latihan-latihan.
Selain itu juga harus melakukan upaya-upaya untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik antara lain:
1. Menjelaskan manfaat dan tujuan dari pelajaran yang diberikan. Tujuan yang jelas dan manfaat yang betul-betul dirasakan oleh peserta didik akan membangkitkan motivasi belajar.
2. Memilih materi atau bahan pelajaran yang betul-betul dibutuhkan oleh siswa. Sesuatu yang dibutuhkan akan menarik minat siswa, dan minat tersebut merupakan salah satu bentuk motivasi.
3. Memilih
cara penyajian yang bervariasi, sesuai dengan kemampuan peserta didik
dan banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba dan
berpartisipasi,Banyak berbuat dalam belajar akan lebih membangkitkan semangat dibandingkan hanya dengan mendengarkan.
4. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk meraih kesuksesan. Kesuksesan
yang dicapai oleh peserta didik akan membangkitkan motivasi belajar,
dan sebaliknya kegagalan yang terjadi pada peserta didik dapat
menghilangkan motivasi.
5. Memberikan kemudahan dan bantuan kepada peserta didik dalam proses belajar. Tugas
guru ialah membantu mengoptimalkan perkembangan siswa. Agar
perkembangan peserta didik lancer, guru memberikan kemudahan-kemudahan
dalam belajar, dan tidak mempersulit perkembangan belajar yang dialami
siswa. Apabila peserta didik mengalami kesulitan atau hambatan dalam
belajar, guru memberikan bantuan baik secara langsung maupun dengan
memberikan petunjuk kepada siapa atau kemana meminta bantuan.
6. Memberikan pujian, ganjaran, ataupun hadiah untuk membanagkitkan motivasi belajar peserta didik.
b. Guru sebagai Tokoh Kunci Dalam Bimbingan
Guru
memiliki hubungan yang erat dengan murid, karena guru banyak memiliki
waktu dan kesempatan untuk mempelajari murid, mengawasi tingkah laku dan
kegiatannya. Kedudukan guru dalam pendidikan yaitu memiliki wewenang
sepenuhnya dalam mempelajari dan memahami siswa-siswanya, bukan saja
sebagai individu tetapi juga sebagai anggota kelompok atau kelasnya.
Sejak siswa masuk ke sekolah dari pagi hari sampai sekolah usai, guru
akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk membantu BK dalam mengumpulkan
data yang diperlukan agar dapat memahami siswa dengan baik.
Sebagian
dari data tersebut didapatkan dari murid sendiri atau orang tuanya
dengan mengisi formulir-formulir isian atau melalui informasi lisan.
Data lainya diperoleh dari pelaksanaan tes atau melalui observasi
terhadap kegiatan-kegiatan siswa, kebiasaan dan tingkah lakunya baik
didalam kelas maupun diluar kelas. Karena itulah guru memiliki peran
penting sebagai anggota utama diantara petugas-petugas bimbingan. Pada
umumnya guru tersebut berada pada posisi yang lebih baik untuk
mengetahui masalah-masalah, sikap dan kebutuhan siswa sehingga
memudahkan guru untuk memberikan bantuan kepada siswa yang membutuhkan.
c. Mengetahui Murid Sebagai Individu
Tugas pertama guru dalam bimbingan adalah mengetahui atau lebih
mengenal siswanya.Kegiatan bimbingan tidak akan berhasil dengan baik
manakala guru kurang memahami siswa. Oleh karena itu diperlukan
pemahaman atau pengetahuan terhadap siswa tentang kebiasaannya dalam
belajar, dalam bermain, kesehatannya, asal-usulnya, teman-teman karibnya
bahkan latar belakang social-ekonominya.(Djumhur,1975:127-129) .
Beberapa
hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses belajar-mengajar sesuai
dengan fungsinya sebagai guru dan pembimbing, yaitu:
a. Mengusahakan agar siswa-siswi dapat memahami dirinya, kecakapan-kecakapan, sikap, minat, dan pembawaanya
b. Menyediakan
kondisi-kondisi yang memungkinkan setiap siswa merasa aman, dan
berkeyakinan bahwa kecakapan dan prestasi yang dicapainya mendapat
penghargaan dan perhatian.
c. Mengembangkan sikap-sikap dasar bagi tingkah laku social yang baik
d. Menyediakan kondisi dankesempatan bagi setiap siswa untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
e. Membantu memilih jabatan yang cocok, sesuai dengan bakat, kemampuan dan minatnya.
f. Perlakuan terhadap siswa secara hangat, ramah, renah hati,menyenangkan.
g. Perlakuan
terhadap siswa secara didasarkan atas keyakinan bahwa sebagai
individu,siswa memiliki potensi untuk berkembang dan maju serta mampu
mengarahkan dirinya sendiri untuk mandiri.
h. Kepekaan terhadap perasaan yang dinyatakan oleh siswa dan membantu siswa untuk menyadari perasaanya itu.
i. Kesadaran
bahwa tujuan mengajar bukan terbatas pada penguasaan siswa terhadap
bahan pangajaran saja,melainkan menyangkut pengembangan siswa menjadi
individu yang lebih dewasa
j. Sikap yang positif dan wajar terhadap siswa
k. Pemahaman siswa secara empatik
l. Penghargaan terhadap martabat siswa sebagai individu
m. Penampilan diri secara asli (genuine) tidak pura-pura didepan siswa
n. Kekonkretan dalam menyatakan diri
o. Penerimaan siswa secara apa adanya
p. Penyesuaian diri terhadap keadaan yang khusus
2. Tugas Guru Dalam Operasional Bimbingan DiLuar Kelas
a. Bimbingan bagi peserta didik yang sesuai tingkat kecerdasannya
Meskipun perkembangan belajarnya normal, tetapi mereka membutuhkan
bimbingan, untuk mempertahankan prestasi yang telah dicapainya, dan
meningkatkannya. Bimbingan terhadap mereka dapat diberikan oleh konselor
atau guru pembimbing dan juga guru mata pelajaran. Bimbingan dari
konselor lebih bersifat umu, dapat dilakukan secara individual ataupun
kelompok, informasi atau adjuktif. Materi bimbingan dapat diarahkan pad
perencanaan dan pengembangan diri, peningkatan hubungan social,
pemeliharaan dan peningkatan motivasi belajar, disiplin belajar,
memperbaiki cara-cara belajar, mengerjakan tugas, latihan DLL.
Bimbingan yang lebih mengrah pada pemeliharaan dan peningkatan
penguasaan materi pelajaran diberikan oleh guru pembimbing dan guru
bidang studi. Mereka diharapkan memberikan perhatian yang lebih besar
terhadap perkembangan belajar dari siswa, memperhatikan perbedaan
individual siswa, Memberikan tugas dan latihan yang sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan meereka. Guru bidang studi juga diharapkan dapat
memberikan layanan remedial terhadap peserta didik yang mengalami
kesulitan dan pengayaan terhadap peserta didik yang cepat.
Bimbingan terhadap peserta didik berprestasi rendah juga diberikan oleh
konselor, guru pembimbing dan guru bidang studi. Peserta didik
berprestasi rendah, dapat dipastikan memiliki masalah, ada factor
penyebab yang melatar belakanginya mungkin bersumber pada dirinya
mungkin juga diluat dirinya. Guru mata pelajaran harus berusaha
menemukan penyebab tersebut. Bila penyebabnya sudah ditemukan langkah
selanjutnya adalah memberikan layanan remedial atau korektif terhadap
kelemahannya dan pengembangan tarhadap potensi atau kekuatan yang
dimilikinya.
Layanan dari guru pembimbing dan guru bidang studi lebih difokuskan
pada layanan remedial dalam beberapa mata pelajaran yang kurang,
konselor juga dapat membantu dalam mendiagnosis kelemahan yang diderita
para siswa. Berdasarkanhasil diagnosis tersebut guru-guru memberikan
layanan remedial. Disamping memberikan layanan remedial guru bidang
studi juga hendaknya berusaha untuk menyiapkan dan memberikan pelajaran
sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, menciptakan situasi balajar
mengajar yang lebih membangkitkan motivasi belajar, lebih permisif dan
terbuka pada siswa.
b. Melakukan Kunjungan Rumah
Kunjumgan rumah merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan dan
konseling. Fungsi utama dari kunjungan rumah adalah membina hubungan
baik dan kerjasama antara guru mata pelajaran dan orang tua siswa.
Melalui hubungan baik dan kerjasama ini, diharapkan ada saling
pengertian. Kesamaan persepsi. Sikap dan perlakuan terhadap siswa. Dalam
kunjungan rumah, guru mata pelajaran dapat memperoleh data lebih luas
dan mendalam tentang perkembangan siswa, karakteristik, sikap, kebiasaan
serta aktivitasnya dalam keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar,
serta kondisi kehidupan keluarga siswa.
Kegiatan ini bermanfaat untuk:
1. Membiasakan anak untuk bergaul dengan teman-temannya, bagaimana mengemukakan pendapatnya dan menerima pendapat dari teman lain
2. Merealisasikan tujuan pendidikan dan pengajaran melalui belajar secara kelompok
3. Mengatasi kesulitan-kesulitan, terutama dalam hal pelajaran secara bersama-sama
4. Belajar hidup bersama agar nantinya tidak canggung didalam masyarakat yang lebih luas
5. Memupuk rasa kegotong-royong
c. Pertemuan Guru Murid
Sewaktu-waktu
apabilah dibutuhkan, maka guru perlu mengadakan pertemuan dari
hati-kehati dengan murid. Pertemuan itu dapat dilakuakan sebelum sekolah
dimulai, pada waktu isterahat, atau setelah sekolah usai. Dari
pertemuan tersebut akan didapatkan data mengenai siswa yang mungkin
sedang bermasalah.
3. Keterbatasan guru
Jika melihat realita bahwa di Indonsia jumlah tenaga konselor
professional memang masih relatif terbatas, maka peran guru sebagai
pembimbing tampaknya menjadi penting. Ada atau tidak ada konselor
professional disekolah, tentu upaya pembimbigan terhadap siswa mutlak
diperlukan. Jika kebetulan disekolah sudah tersedia tenaga konselor
professional, guru bisa bekerja sama dengan konselor bagaimana
seharusnya membimbing siswa di sekolah. Namun jika belum, maka kegiatan
pembimbingan siswa tampaknya akan bertumpu pada guru.
Beberapa keterbatasan guru antara lain:
a. Guru
tidak mungkin lagi menangani masalah-masalah siswa yang bermacam-macam,
karena guru tidak terlatih untuk melaksanakan semua tugas itu.
b. Guru
sendiri sudah berat tugas mengajarnya, sehingga tidak mungkin lagi
ditambah tugas yang lebih banyak untuk memecahkan berbagai macam masalah
siswa.
4. Upaya Guru Dalam Mengobtimalkan Peranannya
Agar guru dapat mengobtimalkan perannya sebagai pembimbing, berikut ini bebrapa hal yang perlu diperhatikan:
a. Guru
harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya.
Misalnya pemahaman tentang gaya dan kebiasaan belajar serta pemahaman
tentang petensi dan bakat yang dimiliki anak, dan latar belakang
kehidupannya. Pemahaman ini sangat penting, sebab akan menentukan teknik
dan jenis bimbingan yang harus diberikan kepada mereka.
b. Guru
dapat memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan keunikan yang
dimilikinya.
c. Guru
seharusnya dapat menjalin hubungan yang akrab, penuh kehangatan dan
saling percaya, termasuk didalamnya berusaha menjaga kerahasiaan data
siswa yang dibimbing, apabilah data itu bersifat pribadi.
d. Guru
senantiasa memberikan kesempatan kepada siswanya untuk menkonsultasikan
berbagi kesulitan yang dihadapi siswanya, baik ketika sedang berada
dikelas maupun diluar kelas.
e. Guru
sebaiknya dapat memahami prinsip-prinsip umum konseling dan menguasai
teknik-teknik dasar konseling untuk kepentingan pembimbingan siswanya,
khususnya ketika siswa mengalami kesulitan-kesulitan tertentu dalam
belajarnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hakikat bimbingan dan konseling di Sekolah Menengah Pertama dapat dibedakan atas bimbingan dan konseling.
· Bimbingan
adalah suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat
mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar
memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self
acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), dan merealisasikan
dirinya (self realization)
· Konseling
adalah bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agar
memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah guna
memperbaiki tingkah lakunya dimasa yang akan dating.
· Perlunya
bimbingan dan konseling di sekolah menengah pertama karena berhubungan
erat dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional.
· Fungsi
bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Pertama antara lain: Fungsi
penyaluran (distributive), fungsi penyaluran (adjektif), dan fungsi
adaptasi(adaptif).
· Kegiatan
BK dalam kurikulum berbasis kompetensi, kerangka kerja layanan BK
dikembangkan dalam suatu program BK yang dijabarkan dalam 4(empat)
kegiatan utama yakni: Layanan dasar bimbingan, layanan responsive,
layanan perencanaan individual, dan dukungan system.
· Peran
guru mata palajaran dalam pelaksanaan Bimbingan dan konseling adalah
terletak pada kekuatan intensitas hubungan interpersonal antara guru
dengan siswa yang dibimbingnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar